Beberapa minggu yang lalu, aya sempat sakit, hari itu tiba2 badan aya panas.. padahal baru juga berkomentar simpatik kepada temen2 yang anaknya sedang sakit, menyadari saat ini lagi musim sakit anak2 dan berharap aya tak sakit *tapi kenyataan berkata laen..
Malam hari (23Maret) dia demam tinggi, tapi paginya udah turun dan suhu badannya kembali normal, tapi tidak sampai di situ karena keesokannya aya diare dan muntah sampai lebih dari 5 hari, sempet juga satu hari dia diare sampai lebih dari 15x sehari. Meski sudah berusaha memperhatikan asupan cairan dan mengatur pola makannya dengan memperhatikan aturan BRATY, tetep ngeri juga sih takut aya dehidrasi, tambah lemes atau komplikasi lain2.
Akhirnya pergi juga ke dokter di RS H*rmina, menemui dr. R, sebelumnya aya pernah sekali datang ke beliau buat imunisasi tapi tidak pernah berobat. Setelah menunggu kurang lebih 1,5 jam, giliran aya masuk diperiksa, belum diapa2in langsung deh ngejer, nangis abis.. diukur suhunya 36,7derajat, ditanyain ini itu langsung deh dokter bilang tes darah aja ya bu, takutnya bla bla bla bla.. HAH? Apa dokter? Wis ga sempet nanya apa2 lagi, udah hectic banget suasananya, aya nuangis dan minta keluar ruang dokter..
Hedeuh bingung deh, mana sendirian, aya ga bisa diajak kompromi pulak, bingung dan panik lah pokoknya.. ga sempet mikir dan cari tau banyak, ya udahlah toh ga bakal tau apa yang terjadi kalo ga tes (pikirku waktu itu sih), ditega2in lah liat aya diambil darah. Hiks.. mahal juga ya biaya tes darah itu.. untuk tes hematologi, CRP, Widal dan Weil Felix total biayanya 550rb, huwaaaaa belum biaya dokter dan obat… bismillah deh moga yang terbaik buat aya
Malam hari dapat telp dari dokter jaga buat bacain hasil tes lab aya, dan hasilnya sodara…… Aya POSITIF indikasi tifus, dari hasil labnya tes Widal dan Weil Felixnya positif meski CRP-nya rendah (kata dokternya sih CRP itu indikasi tingkat infeksi). Rekomendasinya jelas, dr.R menyarankan agar rawat inap malam itu dan diINFUS. Duh ya.. masuk ruangan dokter aja langsung ngejer, sekarang dia mesti tidur di sana, bertemu banyak orang asing yang menurutnya menyeramkan, dan diinfus pula..bahkan membayangkannya saja tidak sampai hati.
Dengan sedikit rasa pede di hati, berbekal dengan sejuta kasih sayang dan sisanya NEKAD.. mencoba memberanikan diri untuk tidak mengambil langkah sesuai rekomendasi dokter, aya tak rawat sendiri di rumah!! Semua penegakan dan perawatan terhadap pasien tifus dilakukan, dari makan2 alus, bed rest total, dan ga boleh telat minum obat. Oh iya karena hasil tes-nya positif, dan bakteri, aya harus minum antibiotik sampai habis. Plus harus kontrol ke dokter beberapa hari berikutnya untuk evaluasi dan observasi kondisinya.
Setelah panik mereda, bingung berkurang, dan diri sudah mulai ikhlas menerima ujian Allah, disaat itulah otak mulai bisa berpikir. Laptop dibuka, browsing sana sini, mencoba mencari tahu banyak tentang tifus, gejalanya, penegakan diagnosisnya, tes-nya, perawatannya, pengobatannya. Semakin membaca, semakin pula banyak tahu. Anehnya jadi semakin mencari celah kemungkinan dan berpikir, mungkinkah ini semua salah? Adakah kemungkinan ini bukan tifus? Mungkin sama dengan diagnosis penyakit lain?
Satu hal, dari literature yang dibaca, seperti:
http://koranindonesiasehat.wordpress.com/2009/12/09/cermati-diagnosis-tifus-yang-tidak-benar-tes-widal-positif-belum-tentu-tifus/
juga dari
http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=232
ada kemungkinan aya bukan sakit tifus, karena seharusnya pada tifus disertai demam yang semakin meninggi dengan pola tertentu, dan badannya lemas. Dua hal ini cukup berbeda dengan kondisi aya, dia hanya demam sehari semalam saja, dan dia tetap aktif (yah lemes juga sih kadang, tapi kemungkinan itu karena dia mesti bolak balik pup ke kamar mandi)
Wah hati ini semakin bimbang, apa ini tuh semacam intuisi sorang ibu ya?. Kayaknya2 suara hati ini mengatakan ada yang salah, setengahnya masih ga terima dan ga percaya juga kenapa aya sampai tifus (padahal ya apa sih yang ga mungkin kalo Allah punya kehendak). Keinginan mencari second opinion semakin besar, bayangin ya.. dokter aya ini menegakkan diagnosis tifus hanya melihat hasil lab (yang hasil tes Widal ini seringkali rancu), tanpa melihat kondisi klinis pasien.
Hingga tiba hari aya kudu datang lagi buat kontrol ke RS, setelah berusaha mencari tau lewat resepsionis dokter manakah yang cocok untuk pasien ceriwis macem ak ini, diputuskan untuk mencoba konsul ke dr. E. Masuk ruangan dr.E, kali ini aya lebih tenang, cerita lagi deh ke dokter awal sakit aya, ampe hasil tes lab, ampe obat2nya. Dokternya juga nanya ini itu, kondisi klinis pasien sekarang, makanannya. And you know what the doctor said… “gpp ini, cuman diare biasa aja” aku: *:”??!@#(()&^%#@. seneng, kaget, campur puas campur shock campur marah....
Gmana bisa???? Terus terus terus??? Kenapa waktu itu ga pake babibu maen rekomen rawat inap ajah? Maen perintah infuse segala? Terus kalo dah terlanjur diINFUS waktu itu yak apa? kalo anaknya rawat inap waktu itu trus jadi trauma gemana? Ya Allah…. Sedekat ini ya sebuah kekhawatiran dan penyesalan itu..
Jadi dr. E bilang, kemungkinan ini diare biasa, ga perlu minum obat karena penyebabnya virus, makannya juga ga usah yg alus2, seperti biasa aja. Antibiotic juga ga perlu diterusin karena ga ada gunanya juga! Dokter…. Seneng deh ketemu dokter.. yang satu ini orangnya emang lumayan enak, mau diajak diskusi 2 arah, mau ndengerin juga, meski ga terlalu humoris *garing juga kan pas udah terlanjurseneng denger ternyata bukan tifus dan lebay bikin candaan, nih dokter lempeng aja, gariiiiing pak dok.. yah intinya saat itu pulang dengan tenang dan gembira, pengen teriak aja rasanya.. WOiiiiiiii aya ga sakit tifus dan dia gau usah opname!!!
Yah mommy.. moga bisa ambil hikmah dari sekelumit cerita ini yak, mungkin ga terlalu bagus tulisannya, tapi moga pesennya bisa nyampe..
Ada beberapa tips *maaf ya ga maksud menggurui:
- Tes widal itu (dr literature yg tak baca) tidak bisa serta merta digunakan untuk diagnosis tifus, hasil positif belum tentu pasien berarti sakit tifus (begitu juga sebaliknya), tes kultur darah Gaal lebih signifikan
- Jangan mudah panic, boleh ding dikit.. tapi tetep berusaha tenang dan rasional
- Dokter juga manusia sama juga dengan kita, ada kalanya mereka juga melakukan kesalahan, pastinya mereka ga mau nanggung resiko, pilih amannya dan preventif, tinggal pintar2 kita juga
- Baca, baca dan baca.. learn as much as possible..
- Tentang biaya, sempet juga terpikir, ah aya opname aja, kalo rawat inap dia dicover asuransi, termasuk biaya tesnya pun diganti, daripada rawat jalan dan mahal?? *well, salah juga ya ternyata, dampak psikologis rawat inap ini bisa berbeda2 pada anak, takutnya bikin trauma dll (harus dipertimbangkan bener2). Oke lah gpp nak, mama rela bayar semuanya sendiri.. *rogoh kocek daleeeeemmm banget..
- Rawat inap di RS dikhawatirkan tidak hanya menyebabkan trauma psikologis, tetapi juga bahaya infeksi nosokomial (infeksi akbibat kuman di RS), baca artikel dr. wati: COMMON PROBLEMS IN PEDIATRICS
- Perhatikan juga penggunaan antibiotic pada anak (artikel bagus dari blog dr. wati: http://purnamawati.wordpress.com/2009/09/17/dampak-penggunaan-antibiotik-yang-irasional/)
- Last but not least: be critical! Be smarter be healthier.. kalo bukan kita mamanya, siapa lagi??
dengan senang hati berbagi,
mama&aya



